Heru Lelono #Kisihati Warga Negara

Hikmah Aksi 411 Dan 212 Bagi Bhineka Tunggal Ika

Kamis, 08 Desember 2016 | 20:04
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Heru Lelono

INDOPOS.CO.ID - BERAWAL  dari tersinggungnya umat Islam atas perilaku yang tidak seharusnya dilakukan Basuki Tjahaya Purnama sebagai pejabat negara, dengan menyinggung Surah Al’Maidah, menyulut aksi yang dilakukan umat dihampir semua daerah di tanah air. Bahkan protes dan keberatan atas sikap Basuki juga dilontarkan masyarakat dari berbagai golongan ras dan Agama.



Digagas oleh GPNF-MUI, FPI, tokoh Islam, tokoh masyarakat, dan sebenarnya juga niat pribadi dari segala lapisan masyarakat, berlangsung aksi besar di Jakarta pada tanggal 4 Nopember 2016, yang lebih dikenal dengan Aksi 411. Aksi damai yang sempat sedikit dinodai oleh oknum dipenghujung waktu, sebenarnya hanya murni menyampaikan tuntutan agar Basuki yang dinilai telah menista buku suci umat Islam dihukum sebagai bentuk keadilan. Sesuai undang-undang yang ada, dimana dimasa sebelumnya, beberapa orang yang memiliki kasus yang sama juga mendapatkan hukuman penjara.



Sementara itu, banyak pihak menilai aparat hukum dalam kasus ini nampak gamang menanganinya. Ada yang menebak karena Basuki dinilai erat dengan kekuasaan. Ada yang menilai Basuki memiliki ‘backing yang kuat’, dan lain sebagainya. Semua itu seolah semakin dikuatkan oleh sikap Basuki sendiri misalnya, seperti diberitakan media, yang bersangkutan mengatakan dengan sembarangan ‘saya dibacking Kapolri’. Atau berkata ‘saya bisa nembak’, dan lainnya.



Mungkin juga aparat nampak gamang karena disaat yang sama, Basuki juga menjadi salah satu peserta Pilkada DKI Jakarta. Dalam hal ini sesuai aturan main yang dibuat KPU, seorang tersangkapun masih bisa ikut Pilkada. Sehingga seluruh peserta yang sah masih bisa menjalani semua proses Pilkada tersebut, misalnya berkampanye.



Pilkada ini pula yang kemudian mudah digunakan pihak tertentu untuk membelokkan inti persoalan, dimana tuntutan khususnya umat bagi penista kitab suci Islam, menjadi persoalan Pilkada, bahkan sebagian dari aparat memiliki analisa kebablasan seolah akan ada makar bagi Pemerintah. 



Namun apapun penilaian masyarakat, apapun pertimbangan aparat hukum, atau kemanapun isu tersebut akan dibelokkan, Basuki memang masih belum mendapat sangsi hukum. 



 



Kegamangan penanganan kasus tersebut, dan belum adanya hukuman bagi Basuki, mendorong masyarakat yang di-inisiasi oleh tokoh-tokoh ulama Islam yang sama, untuk kembali mengadakan aksi pada tanggal 2 Desember 2012. Aksi yang dinamai Aksi Super Damai 212 diikuti oleh masyarakat dengan jumlah yang lebih besar dari Aksi 411. Karena tanggal itu adalah hari Jumat, maka dalam aksi tersebut diisi pula dengan sholat Jumat berjamaah. Dibasahnya hujan, di-kelelahan badan seperti yang ditunjukkan rombongan dari Ciamis, umat Islam dengan khusuk berdoa bagi keselamatan dan kejayaan masa depan Indonesia. Sementara itu banyak terlihat masyarakat non muslim  yang ikut aksi, walau ikut kehujanan, duduk khusuk menunggu saudaranya umat muslim yang sedang menjalankan sholat Jumat.



Aksi 212 tetap pada tuntutan yang sama kepada pemerintah, yaitu segera dihukumnya penista Agama, agar lahir keadilan. Sedangkan sholat Jumat adalah kewajiban seluruh umat Islam. Jadi sedang melakukan aksi atau pekerjaan apapun, umat Islam akan menghentikan segala kegiatannya untuk melakukan kewajibannya, sholat Jumat.



Diwarnai oleh keikut sertaan Presiden dan Wakil Presiden dalam sholat Jumat, Aksi Super Damai berjalan sesuai judulnya, sangat damai. Bahkan seakan petugas Dinas Kebersihan atau Dinas Pertamanan DKI, tidak perlu bekerja membersihkan atau memperbaiki lokasi yang baru digunakan Aksi tersebut.



 



Aksi “Tandingan”



 



Disayangkan, setiap setelah aksi menuntut dihukumnya penista Agama ini usai, muncul aksi lain yang bernada nasionalisme. Setelah Aksi 411 usai, lalu tanggal 19 Nopember ada Aksi berlabel Parade Bhineka Tunggal Ika. Setelah Aksi 212 usai, disusul aksi dengan judul Kita Indonesia.



Sulit bagi siapapun untuk tidak menilai bahwa aksi tersebut seolah sebagai aksi tandingan. Apabila benar aksi itu dimaksud sebagai tandingan, alangkah menyakitkan. Apakah masyarakat yang ikut Aksi 411dinilai tidak berjiwa Bhineka Tunggal Ika? Atau apakah masyarakat peserta Aksi 212 bukan bagian dari Kita warga negara Indonesia?



Bahkan dalam cuitan saya dimedia Twitter, saya katakan, mengapa aksi Bhineka Tunggal Ika atau Kita Indonesia tidak dilakukan bersamaan saja dengan Aksi 411 atau 212 ? Pikiran saya itu sejatinya untuk mendudukkan penggagas atau peserta Parade Bhineka Tunggal Ika  atau Kita Indonesia, agar tidak mendapat tuduhan seolah mereka setuju dengan perbuatan penistaan Agama, yang sebenarnya itu adalah sikap nyata anti Bhineka Tunggal Ika.



Tentu kita tidak boleh gegabah dengan mengatakan bahwa penggagas Parade Bhineka Tunggal ka atau Kita ndonesia hanya sekedar membuat aksi tandingan. Semua tentu berharap para penggagas memiliki niat yang baik. Hanya saja waktu pelaksanaan, dan fakta kegiatan dilapanganlah yang mendorong orang untuk berpikiran negatif.



 



Hikmah Aksi 411 dan 212



 



Semua kejadian dalam kehidupan, apakah menyenangkan atau menyakitkan, selalu harus diambil hikmahnya. Demikian pula dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini, Aksi 411 dan Aksi 212. Saya ingin mencoba membuat beberapa pemahaman positif terhadap kejadian ini.



 



1. Jiwa Bhineka Tunggal Ika, intinya adalah kewajiban seluruh masyarakat Indonesia untuk mengutamakan toleransi dalam kehidupannya. Para pendahulu bangsa sangat faham, bahwa masyarakat Indonesia beragam, suku, ras, tradisi dan Agamanya. Dan karenanya, lahirlah Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika. 



Inti Aksi 411 dan 212 adalah dorongan kepada Pemerintah untuk menindak penista Agama dengan cepat. Sebab menista Agama adalah perbuatan sangat berbahaya bagi tegaknya Bhineka Tunggal Ika. Penistaan terhadap salah satu Agama akan meracuni jiwa masyarakat untuk ber-toleransi. Apapun Agama, suku atau ras-nya. Jadi bisa dikatakan aksi 411 dan 212 secara langsung memperkuat pembangunan jiwa Bhineka Tunggal Ika bangsa Indonesia. 



 



2. Bagi umat Islam di tanahair, Aksi 411 dan 212 adalah aksi ungkapan kesakitan umat bersama, saat kitab sucinya dinista. Kesakitan bersama itu akan menjadi perekat umat, dan akan memperkuat ke-imanan umat kepada Allah melalui ajaran Islam yang penuh kebenaran. Kesatuan dan kekuatan iman umat Islam di Indonesia, yang notabene mayoritas penduduk di tanah air, secara langsung akan memperkuat pula ketahanan bangsa dan negara Indonesia. Aksi yang damai tersebut insyaAllah juga akan menjadi ciri umat Islam di Indonesia, bahwa memperjuangkan tegaknya kebenaran, amar makruf, bisa dilakukan dengan cara damai dan tidak malahan dengan sikap yang termasuk perbuatan munkar.



 



3. Bagi warga negara yang non muslim, Aksi 411 dan 212 akan menambah rasa tenteram mereka dalam menjalani kehidupan di tanah air. Mengapa? Bila tuntutan mayoritas umat Islam kepada pemerintah untuk menghukum penista ini dipenuhi, maka tidak ada alasan bahkan peluang sedikitpun bagi umat Islam untuk melakukan kesalahan yang sama, yaitu menista Agama lain.



Bukti bahwa umat Islam dipimpin para ulamanya mampu melakukan aksi dengan penuh damai, bisa dijadikan pula sebagai pegangan masyarakat yang tidak beragama Islam.



Tidak bisa dipungkiri, bahwa sebelumnya banyak pihak yang tidak setuju bahkan takut dengan sikap Front Pembela Islam (FPI)  saat melakukan kegiatan dimasa lalu, yang dinilai mengandung kekerasan. Namun dalam Aksi 411 dan 212, ulama yang memimpin FPI Habib Muhammad Rizieq Shihab menunjukan sikap kepemimpinan yang berani namun jauh dari kekerasan. Aksi 411 dan 212 yang super damai itupun kini akan menjadi pegangan yang mengikat bagi seluruh jajaran dan anggota FPI untuk mengedepankan perjuangannya dengan penuh kedamaian. Islam mengajarkan keberanian, bukan kekerasan. Islam mendidik umatnya untuk damai dan rendah hati, yang bukan berarti rendah diri. Umat Islam harus rendah hati, suka damai, namun berani.



 



4. Bagi pemerintah, sebenarnya semua ini adalah anugerah. Masyarakat yang kritis namun menjaga ideologi dan menunjukkan kecintaan terhadap masadepan bangsanya, akan menjadi kemudahan dalam menyusun kebijakan. Masyarakat kritis lahir karena kecintaan terhadap bangsa, jauh berbeda dengan oknum politisi yang kritis hanya saat ingin memiliki kekuasaan, dan menjadi taat menjilat saat mendapatkannya.



Aksi 411 dan 212 bukan anti pemerintah, bukan anti Bhineka Tunggal Ika, bukan anti Indonesia, namun anti penista Agama. Karena aksi 411 dan 212 bukan anti pemerintah, maka sejatinya mereka adalah kawan. Mereka bukan lawan, yang mereka lawan bukan pemerintah, namun ketidak adilan.



 



Semoga episode yang layak dicatat didalam sejarah perjalanan kehidupan bangsa Indonesia ini mampu dipetik hikmahnya bagi seluruh eleman masyarakat dan pemerintah yang sedang menjalankan pengabdiannya.



 



Ajakan para ulama untuk sholat subuh di hari suci Maulid Nabi Muhammad SAW, bukan saja ajakan menyejukkan atas sebuah kewajiban bagi seluruh umat Islam, namun bagi saya 1212 adalah hari yang sungguh berarti. Dihari itulah Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi salah satu umatnya didunia. 



 



Jayalah Masadepan Indonesia !


Editor : Syahrir Lantoni
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%